Sabtu, 30 Juni 2018

CerBung1#3


Acara telah selesai. Aku tidak bisa ikut acara meet up untuk minta tanda tangan karena tiba-tiba mama aku telepon suruh aku cepetan pulang karena kucing aku kelaparan. Sepele banget nggak sih?. Emang nggak ada yang lain apa yang bisa kasih makan kucing?. Seingatku mama pernah kasih makan. Jadinya dengan sedikit sebal, aku pulang kerumah dengan langkah super malas. Sebaliknya Anya terlihat dua kali lebih ceria waktu aku memutuskan untuk pulang. Aku curiga jangan-jangan Anya dalang dibalik semua ini. Menyuruh mama telepon aku, minta aku pulang karena alasan tertentu. Hush nggak boleh su’udzon, batinku
Sampai dirumah, dan setelah ngasih makan kucing kesayanganku, aku memikirkan cowok sialan tadi yang ternyata manajernya Jen Lohcin yang baru. Aku benar-benar nggak percaya sama hal itu. Aku nggak bisa berhenti membatin, “ Jadi cowok tadi itu manajernya Jen Lohcin. Gila, kalau aku sudah tahu sebelumnya, aku nggak bakalan kasar sama dia. Walaupun misalnya dia yang menabrak aku sampai aku kelempar ke kutub utara, pasti bakal aku maafin. Secara, itu bisa jadi jalan aku buat bisa meet up sama idola aku yang ada dalam manajemennya. “
“Nya, gue bener-bener nggak nyangka, sumpah!,” seruku. Anya masih menemaniku di kamar.
“yang bener aja, ternyata cowok sialan tadi manajernya idola gue… harusnya gue bisa manfaatin dia buat bisa ketemuan, kalau gue sedikit bersikap lebih baik tadi,” sambungku menyesal.
“ udah,.. lo nggak usah nyesel kayak gitu. Udah kayak orang nyesel nggak masuk surga tau nggak lo!,” kata Anya tak peduli.
“ ye elo..lo nggak ngertiin banget sih perasaan gue?,”
“ Ata, harusnya lo tuh sadar, dia itu sama-sama manusia kayak kita. Bukan malaikat. Lo nggak usah ngefans segitunya. Cukup kagum sewajarnya,” kata Anya malah menceramahi ku
“ Eh, lo nggak pernah punya idola apa?,” tanyaku kesal.
“ bukan itu masalahnya Ata, kalo yang lo idolain itu Nabi Muhammad gitu, gue pasti dukung sepenuhnya, tapi yang lo idolain itu orang yang beda agama sama elo. Bahkan dia nggak berjasa apa-apa sama elo,”
“ hah? Kok lo malah kayak nyaranin gue buat ngidolain Nabi Muhammad sih?Lo kuno banget!. Dimana-mana yang jadi idola tu ya yang kayak Jen Lohcin gitu. Atau boyband. Gue nggak ngerti jalan pikiran lo.” Kataku tak mengerti dengan ucapan Anya.
“Ata, gue ngerti lo ngefans banget sama Jen Lohcin. Gue peduli sama apa yang lo suka. Buktinya gue yang kasih tau lo soal acara roadshow hari ini. Tapi gue nggak bisa terus bantu lo mendapatkan apa yang lo idolain. Karena faktanya yang lo idolain itu beda agama sama kita. Dia itu non muslim Ta..,” kata Anya menjelaskan.
“ya apa masalahnya sih, kalo dia non muslim?,”
“ Ata lo harus tau, nggak seharusnya kita yang muslim gini mengidolakan orang kafir, alias non muslim. Gue pernah dikasih tau sama kakak kelas, kalau kita nanti diakhirat bakal bersama dengan orang yang kita idolakan,”
“ Eh ya bagus tu.. gue bakal bisa bareng idola gue.,” seruku senang.
“ Lo gimana sih ta?. Lo lupa kalo semua orang yang matinya non muslim gak bakalan di ampuni sama Allah? Lo lupa kalo semua non muslim bakalan masuk neraka?, lo mau bareng sama Jen Lohcin di neraka waktu di akhirat nanti?,”
“ what? Maksud lo apa sih? It’s just an Idol you know?,”
“ Of course because it just an Idol, I told you. Lo nggak mau kan masuk neraka Cuma gara-gara lo ngidolain orang yang salah?,”
Aku menelan ludah. Ini hanya masalah Idola bisa sampe menentukan akhir hidup aku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Menulis Setiap Hari

#1 GATAL Mengantuk dan kecapekan adalah kebiasaanku. Padahal aku tahu dan menyadari kalau sebenarnya pekerjaanku itu tidak banyak ...