GATAL
Mengantuk dan kecapekan adalah kebiasaanku. Padahal aku tahu
dan menyadari kalau sebenarnya pekerjaanku itu tidak banyak dan tidak
seharusnya menyebabkan kantuk maupun lelah. Tapi entahlah, mungkin mataku
memang begini. Kurasa setiap saat kelopak mataku selalu ingin bergandengan erat
bak ada magnetnya seperti pintu kulkas.
Seperti malam ini. Tidak, ini belum malam. Sekarang baru
pukul 20.30. Kelopak mataku kembali meronta ingin mengatup. Padahal aku sedang
belajar untuk ujian akhir semester. Tahu tidak? Kalau aku tidak naik kelas
semester ini, riwayatku tamat.
Aku pun menyerah dan ingin segerra tidur saja. Kurapikan
semua bukuku dan kusiapkan kasurku senyaman mungkin. Tak butuh waktu lama, aku
terlelap. Sial, betapa mudahnya aku tidur ditengah kecemasan detik2 menuju uian
akhir. Ya sudahlah.
Tiba-tiba kelopak mataku terbuka lebar atas perintah otak
yang menerima informasi suara pergerakan
aneh dari telinga. Aku terkejut melihat seekor tikus besar yang sedang
mendekati karung beras. Spontan kuusir tikus sialan itu. Sambil mengomel kesal
aku pun bangun untuk memindahkan karung beras itu kedalam lemari. Benar saja,
karung itu sudah berlubang sedikit. Sekali lagi, tikus sialan.
Setelah itu, aku pun bisa terlelap dengan nyaman lagi.
Tidak juga.
Pukul 12.00 mataku kembali terbuka lebar. Ada bagian badanku
yang terasa gatal sekali dan mengganggu tidurku. Anehnya mataku pun sudah tidak
mengantuk lagi. Aduh, padahal ini masih tengah malam. Aku pun keluar kamar
untuk mengecek keadaan luar. Tak ada masalah apapun, aku pun kembali lagi ke
kasur dan mengecek HP. Sesaat kemudian, tiba-tiba aku teringat kalau aku belum
memasukkan lauk yang masih sisa tadi kedalam kulkas. Secepat mungkin aku
bangkit dan mengambil lauk itu di meja makan dan kumasukkan kedalam kulkas.
Beruntungnya, lauk itu tidak jadi basi karena aku tidak
terlalu terlambat memasukkannya.
Ternyata itulah arti dari bangun tengah malamku ini.
Cerita ini memang terdengar sangat sepele. Namun Sobat, ini
adalah termasuk pelajaran yang sangat penting sekali. Memang tampak sepele, tapi
jika kamu memaknainya dengan benar, kamu akan mendapatkan pelajaran yang amat berharga.
Setiap hari kita bangun. Jika dihitung-hitung, berapa kali
kira-kira kamu bangun semasa umurmu ini? Jika kamu berumur 20 tahun, kamu telah
bangun setidaknya lima belas ribu kali lebih. Terlepas dari umur bayi hingga
anak-anak, setiap kali kamu bangun, kamu pasti bergegas untuk melakukan
tugas-tugasmu dan melakukan hal-hal yang menurutmu penting, menyenangkan dan
ingin kamu lakukan.
Itu adalah fenomena umum
setiap kali kita bangun. Namun sedikit sekali orang yang sadar bahwa
sebenarnya selama ini kita melewatkan tugas saat kita pertama kali bangun.
Kapan kali pertama kita bangun? Tentu saja saat baru dilahirkan dulu. Saat
pertama kali kelopak mata sedikit terbuka walau tak nampak apapun, saat oksigen
pertama kali kita hirup, saat suara kita pertama
kali terdengar di suatu bagian
dunia.
Saat itu kita tentu tidak menyadari akan tugasnya. Sebab masih
lemah otak dan lemah fisik. Namun sekarang, lihatlah! Badanmu telah tumbuh
besar, panca inderamu semua berfungsi dengan baik, dan tentu saja, otakmu sudah
bisa bekerja untuk berfikir dengan baik.
Saat inilah kita harus mengingat lagi mengenai tugas pertama
saat kita pertama kali bangun di bumi. Sebab ini sangatlah penting. Tugas itu
merupakan alasan kita hidup di dunia ini. Ya, untuk tugas itulah kita ada.
Namun bahkan sekarang kita sama sekali tidak mengingatnya dan juga tidak peduli
dengannya. Wahai, padahal inilah hal besar yang harus kita penuhi.
Sekali lagi,
Sebab, karena tugas itulah kita bangun di dunia ini.
Ada suatu ayat dalam Al-Qur’an, kitab suci satu-satunya yang
dijamin kebenarannya yang menceritakan apa yg terjadi saat kita belum bangun ke
dunia ini. Berikut terjemahan ayatnya :
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang
belakang) anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami) kami bersaksi,”……….” [Al-A’raf : 72]
Jadi sobat, saat kita masih berwujud roh, kita telah
bersaksi bahwa Allah adalah tuhan kita. Allah memegang semua kesaksian kita,
dan tentu saja menunggu kita untuk membuktikan kesaksian itu setelah bangun di
dunia.
Entah banyak hal apa yang kita kejar untuk kita penuhi di
dunia ini. Namun tugas untuk membuktikan kesaksian inilah yang sebenarnya
diminta oleh oleh pencipta kita. Adakah kita memikirkannya? Atau, sudahkah kita
membuktikannya.
Mari kita ingat lagi alasan kita bangun pertama kali ini.
Fokuslah memenuhi tugas ini sebab inilah alasan kita ada di dunia
Best Regards,
Lee Aul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar