Sabtu, 23 Juni 2018

CerBung 1#2



Hari H yang kunantikan
Road show film Boneka Berpistol di Surabaya.

Pukul 09.00
Aku sudah ada di lokasi roadshow. Anya sibuk menatap layar HPnya tidak peduli denganku yang udah nggak sabar menunggu kedatangan idola kesayangan. Disini sudah ramai. Berkali kali aku kesenggol orang-orang yang lewat disampingku karena tempat sudah sempit banget.
Ngomong-ngomong orangtuaku nggak tau kalau aku ikutan acara seperti ini. Aku tepaksa sedikit mengibul kalau aku sekarang pergi ke perpustakaan kota sama Anya. Kalau nggak seperti ini, mana bisa aku bertemu sama idola kesayanganku? Yang ada malah aku diceramahin habis-habisan sama mereka terus dikurung dirumah sampai acara roadshownya habis. Bisa mati kecewa aku nanti.
Tak lebih dari sepuluh menit kemudian, yang ditunggu pun datang. Rombongan roadshow film Boneka Berpistol turun dari mobil lalu seorang pembawa acara menaiki panggung. Aku bisa melihat Jen Lihcon berdiri disamping panggung bersama 2 aktor lain.
“Anya!! Akhirnya gue bisa liat Jen Lihcon secara langsung…!!,”seruku riang sambil menarik-narik lengan Anya.
“Ih lo norak,” sahut Anya tak peduli.
“Norak apaan?! Gue lagi seneng banget nih,” balasku nggak terima dibilang norak. Yang beginian mah masih biasa aja.
“Abis acara ini selesai lo temenin gue ketemu langsung sama dia ya..,”pintaku sembari mengedipkan mata.
“ Ah nggak mau gua…!”, tolak Anya mentah-mentah
“ kok nggak mau sih?! Ayolah demi sahabat lo..,” pintaku sekali lagi
“ nggak mau gua,.. pasti nanti itu desak-desakkan, lo nggak pernah denger sering ada berita orang mati gara-gara berdesakan?,”
“ yah itu seringnya kan di acara bagi sembako,”
“ lo gimana sih.. ya sama aja tau, apa bedanya? sama-sama desak-desakan. Dikira fansnya Jen Lihcon tu Cuma lo doang?! Bejibun begini,”kata Anya masih menolak
“pliss gong Nya..,sekali-kali,” pintaku lagi
“ Enggak… lo nggak usah ngarepin bisa ketemu langsung. Lo harusnya bersyukur udah bisa ikut acara beginian,”
“ya tapikan ini ada kesempatan lebih..,”
Tiba-tiba ada yang menabrak Anya dari belakang. Keras banget sampai Anya jatuh tersungkur.
“Eh lo ati-ati dong, pake tuh mata!,” seruku marah kepada cowok yang udah berani banget bikin jatuh sahabatku. Aku nggak peduli kalau pun cowok itu nggak sengaja. Aku membantu Anya berdiri.
“ dasar lo! Buta apa?!,” bentakku masih emosi pada cowok itu.
Anya menepuk-nepuk celananya yang kotor.
“Sori gua nggak sengaja,” kata cowok itu
“Sori-sori doang… lo pikir sori bisa nebus kesalahan gitu aja?!,”
“ sori banget gua buru-buru, gua duluan ya…gua minta maaf,” kata cowok itu kali ini kepada Anya. Sebelum Anya mengangguk mengiyakan dan cowok sialan itu kabur kutarik bahu cowok itu.
“ enak aja lo main kabur,”seruku
“udahlah Ta..biarin aja..,” kata Anya menengahi
“ nggak bisa! lo harus tebus kesalahan lo..Anya lo kan bisa hajar dia sedikit. Udah lama kan lo nggak main hajar..,”kataku.
Waktu SMP Anya terkenal tomboy banget. Awal aku deket sama Anya itu karena Anya nyelamatin aku dari kakak kelas yang palakin duit aku. Tapi sekarang (SMA) di bilang mau berubah dan nggak mau hobi hajar orang lagi.
“kan gua udah nggak lagi Ta..,”
“oh kalo gitu gua aja,” kataku semari mengepalkan tangan. Bersiap memukul cowok itu.
“sori jangan sekarang ya..pliss gue ada hal penting..,” cowok itu merogoh saku celananya mengambil sebuah notes kecil. Lalu menuliskan sesuatu.
“ Nih lo bisa telepon gue nanti… gue gak bisa sekarang nebusnya..daah,”cowok itu pergi setelah menyerahkan kertas itu kepadaku.
Ih cowok aneh…!
“hmm..seru nih..gue dapet korban suka rela,”kataku senang sembari menyimpan kertas berisi nomer telepon.
“lo gampang banget diboongin,” kata Anya
“diboongin apa?,” tanyaku nggak ngerti
“ eh lo mikir nggak sih? Bisa aja cowok itu ngasih nomer palsu tau nggak,” jelas Anya
“ Eh bener juga lo..duh gue oon banget sih..,”
“tuh lo tau,”
“Abis dia meyakinkan banget,”
“coba lo telepon sekarang..! kita cari tau dia bohong ato nggak,”
“ oke,”
aku menyalakan HP lalu menekan nomer telepon dikertas . tak lama terdengar nada sambung. Dan sedetik kemudian panggilan terhubung. Aku menyalakan load speaker.
“halo,” terdengar suara dari seberang
“halo, benar ini dengan…,”ucapanku terhenti. Aku menepuk dahi teringat sesuatu. Aku kan nggak tau nama cowok itu. Siaal..!!
“ Eh Anya lo gimana sih.. kita kan nggak tau cowok tu siapa namanya?,”kataku bingung.
“Ah gitu aja lo bingung Ta..,” Anya merebut HP ku dan menggantikanku berbicara.
“Halo, ini gue yang lo tabrak tadi..,”
“gua kan bilang jangan sekarang.. gua nggak bisa,”
“ enggak sekarang emang…gue Cuma mau mastiin lo gak bohong soal nomer lo. Dan awas kalo lo sengaja ganti nomer setelah ini!,” ancam Anya.
“ tenang aja gue nggak bohong kok…gue pasti tebus kesalahan gue..heran gua temen lo nggak pemaaf banget sih,”
“ Eh! Kalo semua orang pemaaf nggak bakal ada orang yang di penjara tau,” kali ini aku yang menyahut dengan keras.
“ iyee..terserah lo deh..udah yaa gue ada urusan..,”
“ sok sibuk banget lu!!,” teriakku. Lalu telepon di tutup sama cowok itu. Aku pun berdecak kesal.
“udahlah..ntar lo juga bisa bales dia,” kata Anya.
Bener juga! Batinku.
Aku pun berbalik menghadap panggung. Acara udah dimulai. Aku ketinggalan beberapa sambutan. Tapi nggak masalah, kan yang ku tunggu cuma bagiannya jen Lohcin.
Lima belas menit kemudian pembawa acara memanggil actor kesayanganku. Jen Lohcin.

“ Nah sekarang yang paling ditunggu-tunggu, ini dia tokoh utama sekaligus sutradara film Boneka Berpistol, JEN LOHCIN…!!!,” suara pembawa acara tersebut kemudian teredam teriakan histeris dari peserta. Termasuk aku.
Jen Lohcin menaiki panggung dengan seorang cowok dibelakangnya. Teriakan penonton semakin histeris. Cowok itu pasti manajernya, pikirku. Tapi kok bukan yang biasanya? batinku. Aku tahu siapa manajer Jen Lohcin. Secara aku stalker banget sama apa yang aku idolakan. Tapi cowok manajer itu kelihatannya lain dari yang selama ini aku tahu. Aku pun berusaha mengamati lebih seksama. Sial nya posisiku lumayan jauh dari panggung, padahal aku udah dateng awal-awal.
“sejak kapan manajernya Jen Lohcin ganti?,” gumamku
Lagi sibuk-sibuknya mengamati, Anya menyodok sikutku
“ih apaan sih lo! Sakit tau!,”ucapku
“cowok itu bukannya….,”ucapan Anya menggantung. Dia menatap kearah panggung seolah nggak peduli sama lenganku yang sakit akibat sodokannya. Aku hanya mendengus sebal sambil mengusap lenganku yang disodoknya.
Anya menoleh kearahku.
“sori, tapi lo lihat nggak sih? Itukan cowok yang tadi,” kata Anya sambil menunjuk ke arah panggung
aku pun menatap kearah yang ditunjuk Anya.
“ cowok yang lagi sama Jen Lohcin maksud lo?,”
Anya mengangguk cepat.
aku mengamati sekali lagi cowok itu. Saat cowok itu berjalan ke ujung depan panggung. Terlihatlah jelas siapa cowok itu.
“lah itu bukannya cowok tadi??,” ujarku tak percaya. Aku dan Anya saling pandang tak percaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program Menulis Setiap Hari

#1 GATAL Mengantuk dan kecapekan adalah kebiasaanku. Padahal aku tahu dan menyadari kalau sebenarnya pekerjaanku itu tidak banyak ...